FORUM SUKABUMI – Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mulai menunjukkan potensinya sebagai kawasan pengembangan pertanian modern melalui budidaya melon premium berbasis greenhouse. Inovasi tersebut dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenjoayu Sukses Mandiri di Desa Tenjoayu.
Pengembangan pertanian modern ini menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi ekonomi wilayah melalui pemanfaatan teknologi, pengelolaan usaha profesional, serta penguatan peran ekonomi desa.
Budidaya melon premium yang berlokasi di Tenjoayu Sukses Mandiri Farm, Kampung Tenjoayu, saat ini telah memiliki dua unit greenhouse. Masing-masing unit memiliki kapasitas sekitar 600 tanaman.
Terdapat dua varietas melon yang dibudidayakan, yakni Lavender asal Vietnam dan Dalmation. Kedua varietas tersebut dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan dan mulai mendapatkan respons positif dari pasar.
Direktur BUMDes Tenjoayu Sukses Mandiri, Asep Angga Purnama, mengatakan bahwa pada panen perdana, usaha budidaya tersebut berhasil menghasilkan pendapatan sekitar Rp30 juta.
Sementara itu, pada panen kedua, pengelola menargetkan pendapatan meningkat menjadi Rp45 juta. Target tersebut didukung pembenahan manajemen usaha serta penanganan sejumlah kendala, khususnya terkait serangan hama.
Untuk saat ini, pemasaran hasil panen masih difokuskan kepada masyarakat sekitar. Meski jangkauan pasarnya belum luas, seluruh hasil produksi tercatat mampu terjual hanya dalam waktu dua hari.
Ke depan, pengelola berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga memenuhi standar minimal ekspor sekitar 20 ton. Sebagai perbandingan, produksi dari dua unit greenhouse yang beroperasi saat ini baru mencapai sekitar dua ton.
Potensi pengembangan tersebut mendapat perhatian Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, saat menghadiri kegiatan panen melon di Desa Tenjoayu, Minggu (1/11/2026).
Menurut Andreas, keberhasilan BUMDes Tenjoayu Sukses Mandiri membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak harus menjadi hambatan dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Ia menilai, pengembangan usaha pertanian dapat dilakukan melalui penerapan manajemen yang baik, perencanaan bisnis yang matang, serta pengelolaan secara profesional.
Andreas juga mendorong agar budidaya melon premium dikembangkan melalui kolaborasi antardesa, terutama dengan wilayah yang memiliki ketersediaan lahan lebih luas.
Kerja sama tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi Kecamatan Cicurug untuk menjadi salah satu sentra pengembangan komoditas melon. Kolaborasi juga dapat dilakukan melalui pertukaran pengetahuan, penyediaan tenaga ahli, hingga pemanfaatan teknologi pertanian.
“Ini bisa menjadi ikon. Ke depan, bukan tidak mungkin Cicurug dikenal dengan melon. Potensinya juga bisa dikembangkan untuk mendukung agrowisata dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Selain meningkatkan produksi pertanian, budidaya melon premium juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari sektor pariwisata melalui konsep agrowisata.
Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat dari hasil pertanian, tetapi juga berkesempatan mengembangkan berbagai usaha pendukung. Di antaranya pemasaran produk lokal, wisata edukasi pertanian, serta kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pengembangan budidaya melon premium di Desa Tenjoayu diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas ekonomi Kecamatan Cicurug. Keberhasilan tersebut juga diharapkan dapat mendorong desa-desa lainnya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya dan peluang usaha yang dimiliki.
Dengan dukungan dan sinergi pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, petani, serta masyarakat, Kecamatan Cicurug diharapkan mampu berkembang menjadi kawasan pertanian yang berdaya saing, memperkuat kemandirian ekonomi desa, sekaligus mendukung pembangunan Kabupaten Sukabumi yang Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah.***








Komentar